Sabtu, 11 April 2015

Hasjim Asy'ari

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Hasyim Asy'ari)
Hasjim Asy'arie
Hasyim Asy'ari.jpg
Lahir 10 April 1875
Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur
Meninggal 7 September 1947
Jombang, Jawa Timur
Dikenal karena Pendiri Nahdlatul Ulama
dan Pahlawan Nasional
Gelar Hadratusy Syaikh
Pengganti K.H. A. Wahab Hasbullah
Agama Islam
Pasangan Nyai Nafiqoh
Nyai Masruroh
Anak Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Kholiq), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurroh, Muhammad Yusuf
Abdul Qodir, Fatimah, Chotijah, Muhammad Ya’kub
Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy'arie bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari (lahir di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 – meninggal di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun; 4 Jumadil Awwal 1292 H- 6 Ramadhan 1366 H; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren ia dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.

Keluarga

K.H Hasjim Asy'ari adalah putra ketiga dari 10 bersaudara [1]. Ayahnya bernama Kyai Asy'ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Sementara kesepuluh saudaranya antara lain: Nafi'ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Berdasarkan silsilah garis keturunan ibu, K.H. Hasjim Asy'ari memiliki garis keturunan baik dari Sultan Pajang Jaka Tingkir juga mempunyai keturunan ke raja Hindu Majapahit, Raja Brawijaya V (Lembupeteng). Berikut silsilah berdasarkan K.H. Hasjim Asy'ari berdasarkan garis keturanan ibu:
Hasjim Asy'ari putra Halimah putri Layyinah putri Sihah Putra Abdul Jabar putra Ahmad putra Pangeran Sambo putra Pengeran Benowo putra Joko Tingkir (Mas Karebet) putra Prabu Brawijaya V (Lembupeteng)[2]
Ia menikah tujuh kali dan kesemua istrinya adalah putri dari ulama. Empat istrinya bernama Khadijah, Nafisah, Nafiqah, dan Masrurah. Salah seorang putranya, Wahid Hasyim adalah salah satu perumus Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Menteri Agama,[3] sedangkan cucunya, Abdurrahman Wahid, menjadi Presiden Indonesia.

Pendidikan

K.H. Hasjim Asy'ari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Pada tahun 1892, K.H. Hasjim Asy'ari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh at-Tarmisi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.
Di Makkah, awalnya K.H. Hasjim Asy'ari belajar dibawah bimgingan Syaikh Mafudz dari Termas (Pacitan) yang merupakan ulama dari Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhori di Makkah. Syaikh Mafudz adalah ahli hadis dan hal ini sangat menarik minat belajar K.H. Hasjim Asy'ari sehingga sekembalinya ke Indonesia pesantren ia sangat terkenal dalam pengajaran ilmu hadis. Ia mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari, dimana Syaikh Mahfudz merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadis dari 23 generasi penerima karya ini.[4]. Selain belajar hadis ia juga belajar tassawuf (sufi) dengan mendalami Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.
K.H. Hasjim Asy'ari juga mempelajari fiqih madzab Syafi'i di bawah asuhan Syaikh Ahmad Katib dari Minangkabau yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika (ilmu hisab), dan aljabar. Di masa belajar pada Syaikh Ahmad Katib inilah K.H. Hasjim Asy'ari mempelajari Tafsir Al-manar karya monumental Muhammad Abduh. Pada prinsipnya ia mengagumi rasionalitas pemikiran Abduh akan tetapi kurang setuju dengan ejekan Abduh terhadap ulama tradisionalis.
Gurunya yang lain adalah termasuk ulama terkenal dari Banten yang mukim di Makkah yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani. Sementara guru yang bukan dari Nusantara antara lain Syaikh Shata dan Syaikh Dagistani yang merupakan ulama terkenal pada masa itu[5].

Perjuangan

Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, K.H. Hasjim Asy'ari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20.
Pada tahun 1926, K.H Hasjim Asy'ari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.

Karya dan pemikiran

K.H. Hasjim Asy'ari banyak membuat tulisan dan catatan-catatan. Sekian banyak dari pemikirannya, setidaknya ada empat kitab karangannya yang mendasar dan menggambarkan pemikirannya; kitab-kitab tersebut antara lain:
  • Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama'ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa'ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid'ah (Paradigma Ahlussunah wal Jama'ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid'ah)
  • Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin (Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW)
  • Adab al-alim wal Muta'allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta'allim fi Ahwali Ta'alumihi wa maa Ta'limihi (Etika Pengajar dan Pelajar dalam Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pelajar Selama Belajar)
  • Al-Tibyan: fin Nahyi 'an Muqota'atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Tali Silaturrahmi, Tali Persaudaraan dan Tali Persahabatan)[6]
  • Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama Dari kitab ini para pembaca akan mendapat gambaran bagaimana pemikiran
dasar dia tentang NU. Di dalamnya terdapat ayat dan hadits serta pesan penting yang menjadi landasan awal pendirian jam’iyah NU. Boleh dikata, kitab ini menjadi “bacaan wajib” bagi para pegiat NU.
  • Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Mengikuti manhaj para imam empat yakni Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah
dan Imam Ahmad bin Hanbal tentunya memiliki makna khusus. Mengapa akhirnya mengikuti jejak pendapat imam empat tersebut? Temukan jawabannya di kitab ini.
  • Mawaidz. Adalah kitab yang bisa menjadi solusi cerdas bagi para pegiat di
masyarakat. Saat Kongres NU XI tahun 1935 di Bandung, kitab ini pernah diterbitkan secara massal. Demikian juga Prof Buya Hamka harus menterjemah kitab ini untuk diterbitkan di majalah Panji Masyarakat edisi 15 Agustus 1959.
  • Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama Hidup
ini tak akan lepas dari rintangan dan tantangan. Hanya pribadi yang tangguh serta memiliki sosok yang kukuh dalam memegang prinsiplah yang akan lulus sebagai pememang. Kitab ini berisikan 40 hadits pilihan yang seharusnya menjadi pedoman bagi warga NU.
  • Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat Merupakan kitab yang menyajikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memperingati maulidur rasul.[7]

Pustaka

Nahdlatul 'Ulama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Nahdlatul Ulama)
Nahdlatul 'Ulama
Flag of Nahdlatul Ulama.jpg
Bendera Nahdlatul 'Ulama
Pembentukan 31 Januari 1926
Jenis Organisasi
Tujuan Keagamaan dan sosial (Islam)
Kantor pusat DKI Jakarta, Indonesia
Wilayah layanan Indonesia
Keanggotaan 140 juta[butuh rujukan]
Rais Aam Syuriah kosong
Ketua Umum Tanfidziyah Dr. K.H. Said Aqil Siradj, MA
Situs web Situs web resmi
Nahdlatul 'Ulama (Kebangkitan 'Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam besar di Indonesia.[1] Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Sejarah

Masjid Jombang, tempat kelahiran organisasi Nahdlatul Ulama
Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.
Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Muhammadiyah pada tahun 1912. Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
K.H. Hasyim Asyhari, Rais Akbar (ketua) pertama NU.
Berangkan komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, karena tidak terakomodir kyai dari kalangan tradisional untuk mengikuti konverensi Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.
Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Paham keagamaan

NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber hukum Islam bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi/ Tauhid/ketuhanan. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yang lain: imam Hanafi, imam Maliki,dan imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.
Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskankembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.

Daftar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Berikut ini adalah daftar Rais Am Syuriah (Ketua Umum Dewan Syuro) dan Ketua Umum Tanfidziyah (Pelaksana) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama:
No Rais Aam Syuriyah Ketua Umum Tanfidziyah Awal Akhir
Foto Nama Foto Nama
1 Hasyim Asy'ari.jpg KH. Mohammad Hasyim Asy'arie Hasan Gipo.jpg KH. Hasan Gipo 1926 1947
2 Wahab Hasbullah.jpg K.H. Abdul Wahab Chasbullah 1947 1952
Idham Chalid.jpg KH. Idham Chalid 1952 1971
3 Bisri Syansuri.jpg KH. Bisri Syansuri 1972 1980
4 Ali Maksum.jpg KH. Muhammad Ali Maksum 1980 1984
5 Hasan Siddiq.jpg KH. Achmad Muhammad Hasan Siddiq President Abdurrahman Wahid - Indonesia.jpg Dr (HC). KH. Abdurrahman Wahid 1984 1991
6 Pak-kiai-aliyafie.jpg KH. Ali Yafie (pjs) 1991 1992
7 Pak-kiai-ilyas.jpg KH. Mohammad Ilyas Ruhiat 1992 1999
8 Achmad sahal mahfudz.jpg Dr (HC).KH. Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz Hasyim Muzadi.jpg KH. Hasyim Muzadi 1999 2010
Said Aqil.jpg Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A. 2010 2014
9 Mustofa Bisri.jpeg KH. Ahmad Mustofa Bisri (pjs) 2014 Petahana

Basis pendukung

Dalam menentukan basis pendukung atau warga NU ada beberapa istilah yang perlu diperjelas, yaitu: anggota, pendukung atau simpatisan, serta Muslim tradisionalis yang sepaham dengan NU. Jika istilah warga disamakan dengan istilah anggota, maka sampai hari ini tidak ada satu dokumen resmipun yang bisa dirujuk untuk itu. Hal ini karena sampai saat ini tidak ada upaya serius di tubuh NU di tingkat apapun untuk mengelola keanggotaannya.
Apabila dilihat dari segi pendukung atau simpatisan, ada dua cara melihatnya. Dari segi politik, bisa dilihat dari jumlah perolehan suara partai-partai yang berbasis atau diasosiasikan dengan NU, seperti PKBU, PNU, PKU, Partai SUNI, dan sebagian dari PPP. Sedangkan dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang mendukung dan mengikuti paham kegamaan NU. Maka dalam hal ini bisa dirujuk hasil penelitian Saiful Mujani (2002) yaitu berkisar 48% dari Muslim santri Indonesia. Suaidi Asyari[2] memperkirakan ada sekitar 51 juta dari Muslim santri Indonesia dapat dikatakan pendukung atau pengikut paham keagamaan NU. Jumlah keseluruhan Muslim santri yang disebut sampai 80 juta atau lebih, merupakan mereka yang sama paham keagamaannya dengan paham kegamaan NU. Namun belum tentu mereka ini semuanya warga atau mau disebut berafiliasi dengan NU.
Berdasarkan lokasi dan karakteristiknya, mayoritas pengikut NU terdapat di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra. Pada perkembangan terakhir terlihat bahwa pengikut NU mempunyai profesi beragam, meskipun sebagian besar di antara mereka adalah rakyat jelata baik di perkotaan maupun di pedesaan. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi, karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, serta selain itu juga sama-sama sangat menjiwai ajaran ahlus sunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.
Basis pendukung NU ini cenderung mengalami pergeseran. Sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi, maka penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini. Belakangan ini NU sudah memiliki sejumlah doktor atau magister dalam berbagai bidang ilmu selain dari ilmu ke-Islam-an baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk negara-negara Barat. Namun para doktor dan magister ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengurus NU hampir di setiap lapisan kepengurusan NU.

Organisasi

Tujuan

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usaha

  1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
  2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.
  3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
  4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.
  5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.

Struktur

  1. Pengurus Besar (tingkat Pusat).
  2. Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi), terdapat 33 Wilayah.
  3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri, terdapat 439 Cabang dan 15 Cabang Istimewa.
  4. Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan), terdapat 5.450 Majelis Wakil Cabang.
  5. Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan), terdapat 47.125 Ranting.
Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:
  1. Mustasyar (Penasihat)
  2. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
  3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian)
Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:
  1. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
  2. Tanfidziyah (Pelaksana harian)
  3. Anggota

Lembaga

Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu. Lembaga ini meliputi:
  1. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) [1]
  2. Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU)
  3. Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama ( LPKNU )
  4. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU)
  5. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU)
  6. Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI)* (Indonesia) Lembaga Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama- Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama
  7. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU)
  8. Lembaga Takmir Masjid (LTM)
  9. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia NU
  10. Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI)
  11. Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH)
  12. Lajnah Bahtsul Masail (LBM-NU)
  13. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU)
  14. Lembaga Badan Halal Nahdlatul Ulama (LBHNU)

Lajnah

Merupakan pelaksana program Nahdlatul Ulama (NU) yang memerlukan penanganan khusus. Lajnah ini meliputi:
  1. Lajnah Falakiyah (LF-NU)
  2. Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN-NU)
  3. Lajnah Auqaf (LA-NU)
  4. Lajnah Zakat, Infaq, dan Shadaqah (Lazis NU)

Badan Otonom

Merupakan pelaksana kebijakan NU yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu. Badan Otonom ini meliputi:
  1. Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah
  2. Muslimat Nahdlatul Ulama
  3. Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)
  4. Fatayat Nahdlatul Ulama
  5. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)
  6. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)
  7. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)
  8. Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (PSNU Pagar Nusa)
  9. Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz (JQH)
  10. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU)

NU dan politik

Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Sukarno, dan bergabung dalam NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis) Nasionalis diwakili Partai Nasional Indonesia (PNI) Agama Partai Nahdhatul Ulama dan Partai Komunis Indonesia (PKI).
NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk 'Kembali ke Khittah 1926' yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi.
Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR.

Partai penerus

Dunia Santri: Indahnya Jadi Santri

OPINI | 28 January 2011 | 13:37 Dibaca: 1070   Komentar: 3   0 Pengalaman seru tinggal di asrama pesantren sungguh menyimpan kenangan termanis yang sangat dalam. Ada kebanggaan tersendiri saat  menjadi santri. Bangga karena bisa merasakan kehidupan pesantren yang kata orang terlalu terkekang. Tapi justru sebaliknya. Dunia pesantren itu sungguh indah. Tiada seindah kehidupan selain di asrama pesantren.
Bagi yang tidak merasakan dunia pesantren rasanya bagaikan sayuran tanpa garam. Hambar.
Pesantren jauh dari kesan hidup hanya untuk akhirat saja.
Pesantren jauh dari kesan tidak maju-maju.
Pesantren jauh dari kesan fanatik terhadap satu agama.
Pesantren jauh dari kesan teroris
Ya.. pesantren itu hidup bukan untuktujuan akhirat saja, tapi juga duniawi masih dipikirkan.
Ya.. pesantren itu justru membuat pikiran maju dan lebi barokah -Insya Allah-
Ya.. pesantren itu bisa saling hormat menghormati antar umat beragama
Ya.. pesantren itu bukan belajar jadi teroris.
Banyak buktinya orang yang pernah nyantri baik dalam kurun waktu singkat maupun lama. Tidak hanya masyarakat biasa saja, tapi para ulama, kyai, ustad, pengusahan, guru, dokter, aparatur pemerintahan banyak yang sukses karena pernah mengenyam ilmu dan tinggal di pesantren . Lihatlah mantan Menteri Penerangan dan Ketua MPR H. Harmoko yang kini sukses dengan pesantrennya pula, Alm.Nur Cholis Madjid, gUs Dur yang tolrensi sekali dengan umat agama lain, Aa Gym yang pernah ceramah di gereja untuk mempersatukan umat beragama di Indonesia. Dan masih banyak lagi lainnay alumnus pesantren yang hiudpnya lebih menguntungkan baik di dunia maupun di akhirat karena ilmu-ilmu dari pesantren.
Dengan adanya internet dan facebook, dunia pesantren makin asyik saja. PAra alumnus dan santri-santr bisa berbagi suka dan duka (eeh, dukanya sepertinya tidak ada ya.. kecuali jika kehabisan duit kiriman). Serasa dunia milik pesantren.
Salam ukhuwah,
Novy ER
acara jalan2 sesama alumus bkin kangen....

indahnya menjad santri

Dunia Santri: Indahnya Jadi Santri

OPINI | 28 January 2011 | 13:37 Dibaca: 1070   Komentar: 3   0 Pengalaman seru tinggal di asrama pesantren sungguh menyimpan kenangan termanis yang sangat dalam. Ada kebanggaan tersendiri saat  menjadi santri. Bangga karena bisa merasakan kehidupan pesantren yang kata orang terlalu terkekang. Tapi justru sebaliknya. Dunia pesantren itu sungguh indah. Tiada seindah kehidupan selain di asrama pesantren.
Bagi yang tidak merasakan dunia pesantren rasanya bagaikan sayuran tanpa garam. Hambar.
Pesantren jauh dari kesan hidup hanya untuk akhirat saja.
Pesantren jauh dari kesan tidak maju-maju.
Pesantren jauh dari kesan fanatik terhadap satu agama.
Pesantren jauh dari kesan teroris
Ya.. pesantren itu hidup bukan untuktujuan akhirat saja, tapi juga duniawi masih dipikirkan.
Ya.. pesantren itu justru membuat pikiran maju dan lebi barokah -Insya Allah-
Ya.. pesantren itu bisa saling hormat menghormati antar umat beragama
Ya.. pesantren itu bukan belajar jadi teroris.
Banyak buktinya orang yang pernah nyantri baik dalam kurun waktu singkat maupun lama. Tidak hanya masyarakat biasa saja, tapi para ulama, kyai, ustad, pengusahan, guru, dokter, aparatur pemerintahan banyak yang sukses karena pernah mengenyam ilmu dan tinggal di pesantren . Lihatlah mantan Menteri Penerangan dan Ketua MPR H. Harmoko yang kini sukses dengan pesantrennya pula, Alm.Nur Cholis Madjid, gUs Dur yang tolrensi sekali dengan umat agama lain, Aa Gym yang pernah ceramah di gereja untuk mempersatukan umat beragama di Indonesia. Dan masih banyak lagi lainnay alumnus pesantren yang hiudpnya lebih menguntungkan baik di dunia maupun di akhirat karena ilmu-ilmu dari pesantren.
Dengan adanya internet dan facebook, dunia pesantren makin asyik saja. PAra alumnus dan santri-santr bisa berbagi suka dan duka (eeh, dukanya sepertinya tidak ada ya.. kecuali jika kehabisan duit kiriman). Serasa dunia milik pesantren.
Salam ukhuwah,
Novy ER
acara jalan2 sesama alumus bkin kangen....

Jumat, 10 April 2015

minggu, 12 april 2015

Status Santri

  1.  hati manusia saja seringkali tidak bisa puas dengan keputusan Tuhan, wajar jika beberapa orang tidak puas dengan kinerja dan keputusan kita.
  2. dalam banyak kasus asusila yang terjadi, seringkali wanita diposisikan sebagai korban dengan modus penipuan atau rayuan dengan janji2.
    sedang laki laki hampir pasti diposisikan sebagai tersangka.

    pertanyaanya, tak adakah wanita yang merayu laki-laki dengan modus tertentu?
    dan percayakah kita semua jika dalam kasus yang terjadi, si laki-laki mengaku sebagai korban??

    (mungkin menarik kita cermati kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha).
  3.  dari fulan bin fulan bahwasanya Gus Yusuf Al baqir mengatakan, " seseorang yang aktif di dunia jejaring sosial seperti fecbuk, maka akan sulit menjadi orang alim".
    riwayat ini dianggap dho'if oleh beberapa kalangan, karena ada "tadlis" didalam periwayatanya, juga karena dalam kitab "jarh wa ta'dil" Nikky Sanez Hazhem  (Akun FBku) dianggap kurang bs dipercaya.
  4.  saya yakin seyakin yakinya, semua orang pasti ingin masuk surga secepatnya.
    tapi anehnya jarang sekali yang menginginkan kematian secepatnya.

    (lho.. bukanya proses masuk surga harus mati duluan)
  5. abdel: kang... ngucapin selamat natal gmana hukumnya?? katanya haram ya.....
    bukankah itu baik, toleransi antar agama.....
    temon: gini lho kang....
    anda seorang yang punya jiwa nasionalis tinggi terhadap NKRI... tentu tidak mengakui adanya OPM (organisasi papua merdeka) yang telah menyatakan keluar dari NKRI.
    lyak kah bagi anda mengucapkan selamat atas hari lahirnya OPM ???...
    mungkin dengan alasan toleransi???

    tak perlu membahas hukum kang...
    jika anda punya jiwa patriotik tinggi terhadap agama anda...
    saya rasa tidak layak bagi anda mngucapakan selamat natal...

    abdel: lho kang... masak agama lain disamakan dengan organisiasi pembrontak???

    Temon: bukan soal pembrontaknya kang... Ini soal pengakuan. Indonesia sama sekali tidak mengakui adanya OPM dan Republik papua barat sebagai negara yang sah
    sama halnya dengan Islam.. tidak mengakui kebenaran agama lain...

    (sekedar corat coret.. silahkan dikoreksi)
  6. kang bedul baru saja menikah dengan seorang gadis belia cantik yang dia pilih.
    namun baru 3 hari berselang kang bedul justru tampak resah dan galau, sungguh aneh, mengingat masa pengantin baru adalah masa yang seharusnya membahagiakan. selidik punya selidik, dengan alasan yang cukup kuat, ternyata kang bedul mulai meragukan keperawanan istrinya. dia curiga istrinya sudah tdk perawan, tidak seperti yang dia sangka sebelum nikah. bolehkah kang bedul meminta "fasakh nikah" shingga pernikahan dibatalkan???
    bagaimana solusi terbaik bagi kang bedul menurut perspektif fiqih??
    salahkah dia jika dihari keempat kang bedul mengambil keputusan dengan mentalaq istrinya karena merasa pernikahan tidak bisa dilanjutkan??

    (mencoba mengandai-andai seandainya kejadian tersebut tidak terjadi pada seorang bupati).
  7. Nek mangan lawuh sate gule syukur, tp nek mangan lawuh tewel gk syukur, wi jnenge gung teko hakekote syukur..
    (ksimpulan ngaji ihya' wingi)
  8. Allohumma bika asbahna..... kita lihat apa yang Alloh takdirkan untuk kita pagi ini.....
  9. pagi pagi kita harus kerja cari makan, pulang sore tinggal capeknya... sejurus kmudian tidur dah...
    akupun berpikir jika kehidupan kita hanya kerja, kalo lapar ya makan, kalo ngantuk ya tidur.. kalo lg ngebet ya kawin.... lalu apa bedanya kita dngan kambing...? 
  10. " yang halal aja ada hisabnya, apalagi yang haram...."
    namun ada 3 makanan yang tidak akan dihisab oleh Alloh...
    1. makanan untuk berbuka
    2.makanan untuk saur.
    3. makanan yg dimakan fisabilillah...
    santri ng pondok ki yo fisabilillah kang...
    makane ng pondok mangan sng akeh...
    gk enek hisabe...
    nek enek seng dipangan tapi....
  11. dari sekian panjangnya hadist riwayat sayyidah aisyah tsb, yang menancap dalam memori hanya kata2, "pernah suatu ketika aku mandi bersama Rosululloh dalam bejana yang sama".

    mesra tenan yo kanjeng Nabi ki.....
    seng ngeneiki seng cocok tenan.
  12. wong nek gk betah ng kamulyan, arep ng ndi maneh..
    Mestine ng keinonan...
    (ngaji sore romo kyai)